Showing posts with label catatan penelitian. Show all posts
Showing posts with label catatan penelitian. Show all posts

Sinar matahari pukul 08.00 berusaha menembus jalinan mangrove yang mengelilingi batas daratan. Meskipun masih pagi, saya dan dua rekan sudah diajak mengelilingi Mangrove Trekking di Pulau Karimunjawa oleh Kepala Seksi II Kemojan, Balai Taman Nasional Karimunjawa. Sambil menunggu kami datang, Pak Kasi dan stafnya telah bekerja memunguti sampah di sekitar kawasan trekking. Kebanyakan botol plastik minuman, tak jarang juga bungkus makanan. Yang lebih mengherankan sampah-sampah besar sering tersangkut di antarav akar mangrove.

Peringatan Hari  Aksara Internasional tahun ini mengusung tema Literacy in Digital world. Di era digital masa ini, mau tidak mau kita harus berhadapan dengan teknologi dan informasi elektronik. Digitalisasi telah merambah ke berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Penggunaan teknologi digital dalam pendidikan masih menjadi pro kontra.
Tugas pokok peneliti adalah melakukan penelitian. Sebagai peneliti di parlemen, peneliti Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR dituntut menghasilkan penelitian kebijakan yang dapat membantu tugas-tugas anggota dewan. Akan tetapi, meneliti saja tidak cukup, data yang di dapat perlu disajikan dengan menarik. Selain dalam bentuk saringan data ringkas untuk anggota, peneliti juga menggubah hasil penelitian menjadi artikel jurnal.

| Kegiatan : Penelitian Pusat Penelitian BKD bidang Kesejahteraan Sosial
| Topik: Permasalahan Perlindungan Umat Beragama  
| Waktu : 11-17 April 2016

Pasal 28E UUD 1945 menyebutkan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya dan setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selanjutnya Pasal 29 Ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa  negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; dan menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Akan tetapi, konsep kebebasan di lapangan lebih rumit daripada sekedar yang tertulis di undang-undang. Ada intervensi sosial yang memengaruhi bagaimana umat beragama berperilaku.

Lebih dari 800.000 orang bunuh diri setiap tahun. WHO mencatat pada 2010 angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5.000 orang per tahun. Kemudian pada 2012, estimasinya meningkat jadi 4,3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 per tahun. Oleh karena itu, sejak tahun 2003 WHO mencanangkan tanggal 10 September sebagai World Suicide Prevention Day (Hari Cegah Bunuh Diri Sedunia). Pada tahun ini peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia mengambil tema  “Mencegah Bunuh diri: Menjangkau dan Menyelamatkan Hidup”.
  

Sebanyak 37 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang bekerja adalah buruh! Data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Agustus 2014 menunjukkan bahwa jumlah penduduk diatas 15 tahun yang berstatus buruh/karyawan/pegawai mencapai 42,382,148 jiwa. BPS juga menyampaikan bahwa 46,5 juta orang (40,62 persen) bekerja pada kegiatan formal dan 68,1 juta orang (59,38 persen) bekerja pada kegiatan informal (BPS, Januari 2015:49). Meskipun jumlah angkatan kerja cukup besar, namun hasil kajian LIPI pada Februari 2012 menunjukkan bahwa 43,67 pekerja Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

This body comes with many inconveniences

But, inconveniences don't make me miserable! There's no reason for you to pity me!
 ~ Alphonse Elric, FMA II eps 23 

Pada tanggal 9 Mei 204 silam, tim penelitian "Pelindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas" berkesempatan menghadiri pameran karya siswa SLB Bali di kompleks Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali. Setiap stand menampilkan berbagai kerajinan mulai dari kerajinan tangan seperti rajutan, jahitan dan perhiasan dari manik-manik, hingga produk mesin seperti kaos sablonan. 
Hari ini kami mengundang dua pembicara dalam Focus Group Discussion bertemakan "Pemenuhan dan Pelindungan Hak-hak Penyandang Disabilitas". Pembicara pertama, Ibu Yanti dari Kementerian Sosial menceritakan banyaknya program Kemensos yang dirancang untuk mengelola penyandang cacat. Sebagaimana banyak agenda pemerintah, jarang yang terlaksana secara efektif karena berbagai kendala, termasuk dana, sumber daya manusia, maupun birokrasi. Menarik ketika beliau menyinggung kehebatan Otonomi Daerah yang secara tidak langsung memutus "niat baik" program sosial bagi penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa tugas melindungi penyandang disabilitas bukanlah proyek menarik bagi daerah, oleh karena itu sedikit daerah yang memiliki perhatian terhadap penyandang disabilitas.
diambil dari @P3DI_KS
Untuk memenuhi permintaan Komisi IX DPR RI mengenai kondisi pengawasan peredaran obat tradisional ramuan, atau jamu, di daerah, Tim Penelitian saya berangkat ke dua provinsi, yaitu Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 hingga 17 Mei 2013 dan Bangka Belitung pada tanggal 10 sampai 15 Juni 2013.
SONY DSC
SONY DSC
Suatu hari, saya mengunjungi rumah sakit Tebet untuk menjenguk salah satu rekan kerja yang dirawat karena DBD. Pasien disebelah rekan saya ternyata mengalami kecelakaan yang tidak biasa. Ia meminum jamu yang kemudian membakar bibir dan lidahnya. Beruntung nyawanya terselamatkan. Melihat bibirnya yang hancur, sungguh menakutkan terbayangkan bagaimana jika jamu tersebut mencapai organ vitalnya.

| Kegiatan : Penelitian P3DI Kesejahteraan Sosial
| Topik: Pemberdayaan Masyarakat di Kota Batam
| Waktu : 11-17 November 2012

Sampai bulan lalu saya tidak tahu apa yang dimaksud hutan mangrove (bakau). Barulah ketika seorang tokoh masyarakat kota Batam mengajak saya dan teman-teman mengunjungi pulau Ngenang di Provinsi Kepulauan Riau, saya melihat sendiri pohon bakau yang dimaksud. Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Hutan bakau menyuplai oksigen dunia karena memiliki kemampuan menyerap karbon. Hutan bakau juga berfungsi sebagai habitat ikan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat nelayan.

Indonesia-menurut wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Mangrove#Indonesia)- memiliki sekitar 9.36 juta hektar hutan mangrove. Sayangnya 48% dari jumlah tersebut dikategorikan “rusak sedang” dan 23%nya termasuk “sangat rusak”.

Disini, di Pulau Ngenang, yang kebanyakan penduduknya bergaul dengan laut, kehadiran hutan bakau merupakan idaman. Menipisnya hutan bakau disebabkan penebangan untuk kayu bakar, sehingga mengurangi jumlah ikan di perairan pulau. Semakin lama semakin sulit untuk menjaring ikan karena mereka tidak mempunyai tempat bernaung lagi seiring dengan menghilangnya hutan bakau. Oleh sebab itu, kegiatan melaut menjadi lebih panjang dan lebih mahal daripada sebelumnya. Nelayan harus berlayar lebih jauh ke tengah laut dan hal itu menghabiskan waktu.

Adalah Pak Hasan, seorang nelayan senior yang berinisiatif untuk menanami sekitar pulau Ngenang dengan pohon bakau. Penanaman dilakukan di saat air surut. Pohon bakau sendiri tidak memiliki nilai ekonomi langsung bagi sang nelayan.  Pertumbuhannya sangat lambat dan bergantung pada cuaca.

Memandang pentingnya penanaman pohon bakau, maka perlu perhatian khusus dari Pemerintah daerah untuk melaksanakan perbaikan kualitas lingkungan. Masih adanya tumpang tindih kewenangan antara Pemerintah Daerah dan Otorita Batam (sekarang Batam Investment Development Authority) dan kurangnya koordinasi antara pihak terkait menjadi kendala besar pemeliharaan lingkungan mangrove.
Oleh: Elga Andina

[Calon peneliti bidang kepakaran Psikologi]

telah dipublikasikan dalam buku ”Pencapaian Millenium Development Goals Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.” dengan judul Peta Pendidikan dan Pekerjaan Perempuan di Provinsi Aceh.  Jakarta: Penerbit Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal DPR RI, 2010. ISBN:978-602-8722-33-9.



Pendidikan itu sama pentingnya bagi laki-laki dan perempuan,

dengan begitu kita tahu bagaimana cara bertahan hidup

~Twilight Samurai, 2002

Cita-cita pendiri negeri ini adalah memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Untuk menciptakan kondisi ideal tersebut, maka mutlak dibutuhkan pemerataan pembangunan baik secara fisik maupun moril. Pendidikan sebagai tiang pembangunan moril menempati posko yang terdepan, karena dengan pengetahuan maka manusia dapat mengembangkan dirinya.
sumber: First Class (2014)
USAID melaporkan bahwa pertengahan 2011 lalu populasi Indonesia mencapai 238,2 juta jiwa dengan 19 kelahiran dan 6 kematian per seribu orang. Diperkirakan pada pertengahan 2025 jumlah ini akan menjadi 273,2 juta jiwa. Luar biasa?

Religius | Jujur | Toleransi | Disiplin | Kerja keras | Kreatif |Mandiri | Demokratis |Rasa ingin tahu | Semangat kebangsaaan | Cinta tanah air | Menghargai prestasi | Bersahabat dan komunikatif | Cinta damai | Gemar membaca | Peduli lingkungan | Peduli sosial | Tanggung jawab.

Baru saja saya menuliskan 18 nilai karakter yang ingin dibangun melalui pendidikan nasional kita. Kesemua nilai diatas merupakan ramuan dan fokus yang ingin dicapai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Ide besarnya adalah memasukkan nilai-nilai tersebut dalam mata pelajaran sehingga nantinya sekolah dapat mencetak lulusan yang berkarakter.
Setiap pekerjaan memiliki intrik yang berbeda-beda. Saat pertama kali saya melangkahkan kaki ke dunia penelitian, saya pikir hidup saya hanya akan berkutat seputar buku, penelitian dan tulis menulis. Sama halnya ketika saya menjadi konsultan psikologi disebuah perusahan outsourcing, saya pikir saya hanya akan melakukan asesment kemudian memberikan laporan evaluasi psikologi.

It was already 5 pm, but the HRD office was still lively. Sitting in the bog chair, Mrs. Emiliani who listened carefully to an old lady. She's the driver's wife. She was crying while telling her story. That is the way of work here. Everyone is treated as family. Well, it is a family business corporate.

The fact is that HRD is overloaded. They even take care of personnel household affairs. The employees had been multiplied since the last time I came here. Since the core business is distributing, many drivers are recruited. Most of them are old, less smart and hardly enjoy rules.

As any other company, the management wish to convey good image to their customers (no matter how small their shops are). However, they find it hard to create such good manner with these drivers.

At the same time, the workload is killing. HRD staffs are stucked in general affairs duty and they're less knowledge about human resources development.They barely had time to think about human resources strategical planning.

I was here 5 years ago. It's a short period of work, but the board treated me too good. It was a 9 months work range for me, but a life time tide for real. I stopped working to continue my study at another island. However, they still kept in touch with me. The management is crazy to fix everything leaving me with whole bunch of works to do.

The idea of HRD is actually this simple:



However, it's easier to say than do it. When you put a heart in it, it's getting harder. You know what people say about heart? "Home is where the heart is" That's what they're trying to do here: to make employees feel like at home.

Task Competency is important, but loyalty is the best among all. You can be great at work, but if you doesn't show your best attachment to the company, it'd be hard for you to receive more benefits.

So, what's beneath loyalty? It's honesty.

I won't take any other story but myself. The company took me, a fresh graduate student who was just going to spend vacation at home after graduation. I made a deal with the management that I could only stay until the time to enroll to my master's class. It was only 9 months work. However, they found me holding good integrity that they keep making contact with me. So, I assume thatloyalty has nothing to do with length of work.

Honesty is the best criterion for loyalty, though as a psychologist, I'm still having trouble assessing it. lol.


Pada tanggal 28 September 2010, malam, kota Tarakan digemparkan dengan bentrokan antara warga pendatang dengan pribumi. Korban jiwa jatuh dan puluhan penduduk mulai mengungsi dari kota berpenduduk 178.111 jiwa. Kota ini pada awalnya hanya didiami oleh suku asli Tidung, namun, dalam perkembangannya banyak penghuni baru dari suku-suku lain seperti; Suku Dayak, Banjar, Jawa, Bugis, Tionghoa, dan lain-lain. Islam merupakan agama dengan pemeluk mayoritas (152.899) disini, diikuti Kristen Protestan (16.477), Kristen Katolik (4.745), Budha (2.704), Hindu (91) dan lain-lain (3). Berdasarkan laporan warga, dalam kerusuhan tersebut tiga orang dikabarkan tewas, satu lainnya berada dalam keadaan kritis dan sebuah rumah ludes terbakar. Belum lagi korban harta benda yang hancur dalam pertikaian tersebut, kerugiannya tidaklah sedikit. Kasus bentrokan antarkelompok di Indonesia, semakin sering terjadi.


Dalam tujuh bulan terakhir media telah memberitakan sedikitnya 10 peristiwa bentrokan antarkelompok terjadi di seluruh pelosok negeri, di antaranya:

1. 14 April 2010, Kerusuhan Mbah Priok antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kota Jakarta Utara dengan warga sekitar makam Mbah Priok. Jumlah korban jiwa 4 anggota Satpol PP tewas;

2. 21 Mei 2010, terjadi demo anarkis di DPRD Mojokerto. Massa mendatangi Gedung DPRD Mojokerto yang pada saat itu sedang dilaksanakan pemaparan visi misi pasangan calon bupati dan calon wakil bupati. Massa melempari aparat dan gedung dewan dengan bom molotov dan membakar sedikitnya 22 mobil;

3. 21 Agustus 2010, terjadi bentrokan antara warga Kampung Taar dan Un Pantai yang dipicu masalah tapal batas kampung. Korban jiwa akibat konflik ini adalah seorang wartawan SUN TV yang dikeroyok massa;

4. 31 Agustus 2010, terjadi penyerbuan Mapolsek Buol oleh ratusan massa. Aksi bakar yang dilakukan menyebabkan 7 orang tewas;

5. 5 September 2010, terjadi penusukan jamaah Gereja HKBP Bekasi yang berujung pada bentrok massal.

6. 28 September 2010, kerusuhan di Tarakan antara suku pendatang dengan masyarakat pribumi;

7. 6 Oktober 2010, terjadi tawuran murid SMK Bina Siswa di Jl. Daan Mogot, Jakarta Utara;

8. 6 Oktober 2010, terjadi amukan warga Kampung Sindai, Desa Pajagan, Kecamatan Sajira, Lebak, Banten, terhadap petugas BPN dalam hal sengketa pengukuran tanah;

9. 10 Oktober 2010, terjadi penyerangan tiga pos polisi di Bandung oleh massa tak dikenal yang menyebabkan fasilitas di pos polisi hancur; dan

10. 11 Oktober 2010, diduga ada pembakaran 21 gerbong kereta api dengan sengaja di Rangkas Bitung.

Sebagai negara dengan beragam etnis dan ideologi, konflik antar kelompok menjadi hal yang rawan terjadi. Pergesekan antara satu golongan dengan golongan lainnya mudah berujung pada konflik, baik konflik batin maupun fisik.

Secara garis besar, penyebab konflik antarkelompok di Indonesia disebabkan oleh dua hal:

1. Faktor internal Secara internal, hal yang mempengaruhi timbulnya pertikaian berfokus pada aspek kognisi dan konasi. Dengan kata lain persepsi masyarakat terhadap kelompoknya dan kelompok di luarnya membentuk stigma yang menimbulkan perilaku tertentu. Faktor internal terkait dengan kemampuan diri untuk mengendalikan diri terhadap hal-hal yang dapat memancing konflik. Faktor internal yang pada umumnya mempengaruhi konflik antargolongan di Indonesia, antara lain: - kurangnya kesadaran bernegara; - pengetahuan yang rendah mengenai kelompok lawan; - tingkat toleransi semakin rendah; dan - kondisi emosi yang labil.

2. Faktor eksternal Faktor eksternal sangat terkait dengan kondisi emosi sehingga dapat dikatakan secara tidak langsung mempengaruhi terjadinya konflik. Misalnya kondisi perekonomian yang memburuk sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi. Biasanya mereka dengan tingkat ekonomi rendah cenderung mudah terhasut dan marah. Faktor eksternal yang pada umumnya mempengaruhi konflik antargolongan di Indonsia, antara lain: - kondisi sosial ekonomi; - peraturan yang berlaku; dan - kondisi politik.

Perilaku agresif diatas merupakan cerminan dari nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. Freud menjelaskan bahwa perilaku agresif merupakan sifat dasar yang ada pada setiap manusia. Agresivitas merupakan bentuk adaptasi terhadap permasalahan yang dihadapi. Semakin maraknya kasus kerusuhan merupakan indikasi tingginya agresivitas masyarakat dan rendahnya kemampuan mengontrol emosi.

Agresivitas dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhi

Agresi merupakan perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Perilaku agresif dianggap sebagai suatu gangguan perilaku apabila bentuk perilakunya luar biasa; bersifat kronis (artinya perilaku ini bersifat menetap, terus-menerus, tidak menghilang dengan sendirinya); dan perilakunya tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan norma sosial atau budaya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi agresivitas seseorang, yaitu:

1. Biologis, antara lain dipengaruhi oleh :

a) Gen. Sebuah penelitian terhadap hewan menemukan bahwa hewan jantan yang berasal dari keturunan mudah marah akan lebih gampang terpancing emosinya dibandingkan betinanya.

b) Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi berpengaruh terhadap insting agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Orang yang kurang bahagia cenderung lebih sering melakukan agresi dibandingkan mereka yang mendapatkan kesenangan. Keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.

c) Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Ketika tikus dan beberapa hewan lain dalam sebuah eksperimen disuntikkan hormon testosteron (hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka hewan-hewan tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Demikian juga ketika kadar estrogen dan progresteron pada kaum perempuan menurun (dalam siklus haid), pelanggaran hukum sering terjadi karena adanya perubahan perasaan yang menjadi mudah tersinggung, gelisah, tegang, dan bermusuhan.

2. Geografis

Bentuk dan posisi suatu daerah mempengaruhi bagaimana penduduknya berperilaku. Contohnya Tarakan, yang merupakan kota pesisir dimana kebanyakan pekerjaan penghuninya terkait dengan perikanan. Sifat dan karakteristik masyarakatnya dipengaruhi oleh usaha perikanan tangkap, usaha perikanan tambak, dan usaha pengolahan hasil perikanan sebagai bidang usaha dominan di tempat ini. Profesi tersebut di atas sangat tergantung pada kondisi alam, maka masyarakatnya pada umumnya memiliki sifat moody, mudah berubah, dan cepat terpancing emosinya. Karakteristik masyarakat pulau kecil yang unik semacam ini pada umumnya rentan dan peka terhadap berbagai macam tekanan manusia maupun tekanan alam. Oleh karenanya interaksi sosial yang ada di dalamnya pun beresiko tinggi menimbulkan konflik. Contoh yang sama terlihat juga dalam kasus Mbah Priuk dimana lokasi konflik berada di dekat laut yang menjadikan tempat ini berhawa panas dan memiliki pasokan air bersih yang kurang memadai. Dipicu kurang nyamannya lingkungan tempat tinggalnya, masyarakat setempat cenderung cepat tersulut emosinya.

3. Sosial

a. lingkungan keluarga

Pola asuh yang diterapkan dalam keluarga akan terlihat dalam perilaku anak. Orang yang dibesarkan dengan kekerasan cenderung mudah memperlihatkan perilaku agresi. Pada saat dewasa, apabila tidak dapat mengontrol emosinya, dapat memperlihatkan perilaku agresif dengan dampak kerusakan yang jauh lebih hebat dibandingkan dampak perilaku anak-anak. Perilaku agresi yang diberikan penguat (reinforcement) dapat terus muncul dan muncul ketika seseorang dewasa, dan menjadikan perilakunya tersebut sebagai perilaku normalnya.

b. lingkungan sekolah Sekolah bukan hanya tempat belajar tetapi juga mendidik. Ketika sekolah lebih mengutamakan pembelajaran, maka terjadi pengabaian terhadap penanaman nilai-nilai moral dalam kehidupan murid.

c. budaya Lingkungan tempat seseorang bergaul merupakan media yang selalu memberikan masukan terhadap pola pikir yang berujung pada perilakunya. Inilah yang menyebabkan timbulnya prejudice terhadap suku-suku tertentu. Ada yang dilabeli pemarah, ada pula yang dilabeli ramah, dan sebagainya. Setiap suku memiliki pola interaksi yang berbeda.

Ditemukan bahwa daerah- daerah dimana dominasi pria secara emosional tidak dibarengi dengan kontribusi dalam masyarakat, cenderung menunjukkan perilaku agresif. Misalnya, pada suku dimana ada kebiasaan untuk membiarkan para pria bermalas-malasan dan berjudi sementara para wanita sibuk di sawah, terhitung lebih sering berada dalam situasi konflik. Secara psikologis, agresivitas pria disini didorong upaya pelampiasan energi yang tidak habis digunakan untuk bekerja. Di tempat lain yang terpapar jangkauan media, kebudayaan cenderung beradaptasi dengan informasi yang diterima dari media tersebut. Mereka yang sering menemukan kekerasan dalam tontonan, bacaan ataupun musik yang didengar, cenderung mudah menginternalisasi nilai-nilai agresivitas menjadi suatu hal yang lumrah dan dapat dilakukan dalam keseharian.

Perilaku agresif ini dapat ditampilkan secara berkelompok dan ada yang secara tunggal (soliter). Pada perilaku agresif yang berkelompok biasanya ada yang berperan sebagai ketua dan memerintahkan anggota kelompok lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Anggota kelompok seringkali memiliki masalah yang hampir sama sehingga merasa senasib. Perilaku agresif cenderung dilakukan cenderung secara fisik. Sedangkan pada perilaku agresif yang bersifat soliter, pelaku biasanya berada di luar kelompok. Pada tipe soliter, pelaku tunggal biasanya berada di luar kelompok. Ia adalah orang yang cenderung memiliki hambatan berinteraksi sosial, seringkali menjauhkan diri dari orang lain sehingga lingkungan juga menolak keberadaannya.

Bentuk perilaku agresifnya dapat berupa fisik maupun verbal seperti memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, tidak mau mengikuti perintah atau permintaan, menangis atau merusak.

Upaya Pemerintah dalam Penanganan Konflik

Tindakan Pemerintah dalam menyelesaikan konflik-konflik antarkelompok di Indonesia selama ini masih bersifat kuratif, yaitu penanganan setelah konflik berlangsung. Beberapa upaya yang telah Pemerintah lakukan selama ini, antara lain dengan:

a. Melakukan penegakan hukum.

Dalam upaya penegakan hukum ini pemerintah melakukan penertiban terhadap konflik yang terjadi. Seringkali pemerintah menggunakan kekerasan dalam menertibkan konflik. Padahal dalam Prosedur Tetap (Protap) No. 1/X/2010 tentang Penanggulangan Tindakan Anarki diatur bagaimana aparat keamanan bertindak terhadap sasaran yang merupakan gangguan nyata. Dalam Protap tersebut ada gradasi tindakan yang dapat dilakukan oleh aparat keamanan dalam menghadapi gangguan nyata tersebut, mulai dari penggunaan pentungan, gas air mata, tembakan peringatan, sampai tembakan ke sasaran yang tidak mematikan. Selain melakukan penertiban, pemerintah juga melakukan pengusutan lebih lanjut dalam menyelesaikan masalah yang terjadi agar konflik tidak terulang lagi di kemudian hari. Pemerintah melalui Kepolisian Republik Indonesia segera menyelidiki penyebab dan provokator pelaku kerusuhan.

b. Menjadi akomodator, yaitu penengah dalam konflik. Metode akomodasi yang dilakukan antara lain dengan arbritase (cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbritase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa), konsiliasi (cara penyelesaian suatu sengketa dengan mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh kedua belah pihak yang berselisih), dan ajudikasi (cara penyelesaian sengketa atau perkara melalui pengadilan).

Namun ketika konflik dalam masyarakat terjadi karena Pemerintah dalam posisi sebagai pelaku konflik, upaya yang dilakukan Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan tersebut dilakukan dengan cara:

a. Kompromi, yaitu upaya penyelesaian konflik dengan persetujuan damai atau dengan mengurangi tuntutan antar pihak yang berkonflik. Seperti pada kasus Mbah Priuk, Pemerintah bernegosiasi dengan ahli waris untuk tetap mempertahankan lokasi makam di antara pembanganunan pelabuhan.

b. Legitimasi, yaitu penyelesaian konflik dengan didasarkan pada penerimaan putusan dalam peradilan. Dalam hal ini, Pemerintah menggunakan kekuasaan hukumnya untuk menentukan hasil akhir dari konflik dengan masyarakat.

Cara Mengendalikan Agresivitas

Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam mengendalikan agresivitas dalam masyarakat, yaitu:

1. Pemberian hukuman.

Pemberian hukuman ini berfungsi untuk memberikan batasan antara perilaku yang diperkenankan dengan yang tidak. Ada empat hal yang penting dalam pemberian hukuman ini, yaitu (1) harus segera (harus mengikuti tindakan agresif secepat mungkin); (2) harus pasti-probabilitas (hukuman akan menyertai agresi haruslah sangat tinggi); (3) harus kuat (cukup kuat untuk dirasa sangat tidak menyenangkan bagi penerimanya); dan (4) harus dipersepsikan oleh penerimanya sebagai justifikasi atau layak diterima.

Oleh karenanya, Pemerintah melalui pihak berwajib harus bertindak langsung sebagai pemberi hukuman, memberikan hukuman yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

2. Katarsis (melampiaskan emosi pada sesuatu yang tidak membahayakan). Secara teori, jika seseorang mengekspresikan kemarahan dan kekerasan mereka dalam cara yang relatif tidak berbahaya, maka akan mengurangi tendensi untuk terlibat tipe agresi berbahaya. Pemerintah memiliki peranan besar dalam aspek ini sebagai pihak yang dapat menyediakan media katarsis.

Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan:

1. Membuka lapangan kerja untuk berbagai golongan masyarakat. Menurut data BPS tahun 2010, Indonesia memiliki 8.592.490 penganggur terbuka. Jumlah yang demikian besar perlu dikelola agar menjadi tenaga produktif dengan ditempatkan di berbagai sektor usaha. Pemerintah hendaknya mampu mengembangkan sektor-sektor bisnis yang tidak hanya menguntungkan sebagian masyarakat saja, tapi lebih mengakomodir potensi dan kompetensi masyarakat setempat.

2. Membantu kegiatan-kegiatan produktif kepemudaan. Misalnya dengan mengembangkan kegiatan karang taruna dan Pramuka. Optimalisasi peran pemuda dalam pembangunan daerahnya merupakan langkah awal untuk membekali penerus bangsa untuk menjadi produktif.

3. Mengembangkan kegiatan ekstra kurikuler dalam sektor pendidikan. Pemerintah dapat mendorong generasi muda untuk berprestasi di bidang olahraga sehingga dapat menyalurkan energi pada kegiatan yang bermanfaat. Pemerintah berperan dalam memberikan beasiswa dan melakukan pembangunan sarana olahraga di sekolah dan tempat umum.

4. Peningkatan pemaparan tayangan non agresi. Ini merupakan kontra dari munculnya tayangan agresi yang dapat menimbulkan tendensi berbuat kekerasan. Pada kenyataannya, banyak orang dengan keterampilan sosial terbatas terlibat dalam kekerasan dengan proporsi besar dalam masyarakat. Oleh karena itu lingkungan —terutama media massa — memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh perilaku positif. Selama ini adegan agresif dapat tayang dengan bebas di televisi nasional, sehingga memberikan contoh buruk bagi masyarakat. Pelaksanaan sensor di Indonesia baru terbatas pada adegan porno dan tampilan mayat.

Referensi:

1. Author, A. N.Harian seputar indonesia, selasa, 12 oktober 2010. Kebakaran ka diduga sabotase.

2. Author, A. N.Teori-teori agresi, http://betterandthebest.wordpress.com/. Diunduh tanggal 18 oktober 2010.

3. Author, A. N.Faktor penyebab anak berperilaku agresif. http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/01/19/faktor-penyebab-anak- berperilaku-agresif/#more-386. Diunduh tanggal 22 Oktober 2010.

4. Author, A. N.Penyebab terjadinya kerusuhan tarakan. Http://kaskus- us.blogspot.com/2010/09/penyebab-terjadinya-kerusuhan-tarakan.html. Diunduh tanggal 21 oktober 2010

5. Author, A. N.Faktor penyebab perilaku agresif. Http://valmband.multiply.com/journal/item/17. Diunduh 21 oktober 2010.

6. Author, A. N.Bimbingan bagi orang tua dalam penerapan pola asuh untuk meningkatkan kematangan sosial anak. http://www.damandiri.or.id/file/muazarhabibiupibab2.pdf. Diunduh tanggal 22 oktober 2010.

7. Author, A. N.Karakteristik Masyarakat www.scribd.com/doc/14065168/Karakteristik-Masyarakat-Pesisir. tanggal 24 Oktober 2010

8. Author, A. N. Penyelesaian Pesisir. Diunduh Konflik. http://id.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_konflik. Diunduh tanggal 25 Oktober 2010.

9. Helmi, Avin Fadilla & Sordardjo. 2009. Beberapa perspektif perilaku agresi. Buletin psikologi tahun vi(2) desember 2009.avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perspektifagresi_avin.pdf diunduh tanggal 19 oktober 2010.

10.Iromo, Heppi, SPd., Msi. Peluang Dan Tantangan Pengelolahan Sda Kelautan Dan Pesisir Di Tarakan Dan Sekitarnya. http://referensiilmuwan.blogspot.com/2008/09/peluang-dan-tantangan- pengelolahan-sda.html. Diunduh tanggal 24 Oktober 2010.



11.Saefi, Mahmud, S.Pd. 19 januari, 2010. Pengertian perilaku agresif. http://belajarpsikologi.com/pengertian-perilaku-agresif/. Diunduh tanggal 7 oktober 2010


12. Widhy, Nograhany. 29 September 2010. Polri Beberkan Kronologi Bentrokan Warga di Tarakan . http://www.detiknews.com/read/2010/09/29/082833/1450922/10/polri- beberkan-kronologi-bentrokan-warga-di-tarakan. Diunduh tanggal 27 Oktober 2010.