Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

Pagi ini lebih aneh dibandingkan senin-senin sebelumnya. Meskipun kemacetan bukan barang baru bagi para komuter, namun hari ini macetnya benar-benar luar biasa. Normalnya saya dapat mencapai terminal bus bandara hanya dalam waktu 10 menit, namun dari berangkat pk. 05.45, baru sampai 06.20. Itu baru di depok, ternyata kemacetan pun mengular di sepanjang tol lingkar luar Jakarta. Pada pukul 08.00 bus bandara baru mencapai Pasar Rebo. Oh, tidak. Satu setengah jam kemudian barulah kami dapat melepaskan diri dari kemacetan menuju gerbang tol Meruya.

 

Memilih antara melanjutkan kuliah atau terjun ke dunia kerja sering menjadi problema. Di Indonesia, banyak system pendidikan tinggi yang tidak mendukung kuliah sambil bekerja, seperti yang kebanyakan terjadi di Negara asing. Meskipun kelas karyawan diselenggarakan, levelnya tentu berbeda dengan kelas reguler yang mendapat lebih banyak perhatian dan fokus baik dari peserta kuliah maupun penyelenggara. Oleh karena itu, seorang terpaksa harus memilih antara dua pilihan ini.


Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan, diantaranya:

1.Pikirkan minat

Benarkah anda suka belajar? Ingat belajar yang diwajibkan di Negara kita hanya sampai 9 tahun. Bahkan menurut UNESCO, untuk mencapai angka tersebut saja sulit. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya mencapau 5,8 tahun pendidikan dasar. Benar, ada masalah ekonomi dan keterbatasan fisik sehingga banyak yang putus sekolah, namun minat sekolah seringkali dapat menghancurkan hambatan tersebut.

Ada ratusan bahkan ribuan beasiswa yang diluncurkan berbagai pihak, baik pemerintah maupun non pemerintah, untuk pendidikan tinggi. Mereka yang benar-benar ingin belajar dapat mengajukan permintaan beasiswa tersebut.

Lain halnya jika seseorang tidak memiliki minat belajar. Meskipun ia dipaksa untuk menghadiri kuliah, tidak banyak yang dapat diserapnya. Biarpun memiliki kapasitas intelektual memadai, jika tidak memiliki minat seseorang tidak termotivasi untuk belajar.

Tidak semua orang harus kuliah. Iya, anda tidak salah membaca. Hanya mereka yang benar-benar tertarik menggali dan mengembangkan pengetahuan yang berhak untuk sekolah. Untuk apa menghabiskan uang pada mahasiswa-mahasiswa yang akhirnya hanya nongkrong di starbuck, menjadi arogan dan menjadi pengangguran terdidik karena memilih-milih pekerjaan. Pengangguran terdidik di Indonesia sudah melebihi kuota dan semuanya disebabkan arogansi lulusan perguruan tinggi yang tidak bersedia memulai dari bawah.

2. Profesi akhir

Jika ingin menjadi ilmuan, maka teruslah kuliah. Di jenjang pendidikan tinggi, anda akan mendapatkan pengetahuan mengetai prosedur ilmiah yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas-tugas ilmuan.

Jika ingin jadi praktisi pekerja, ambil diploma, karena jenjang pendidikan ini mempersiapkan seseorang menjadi tenaga terampil.

Jika ingin jadi praktisi pemikir, ambillah S1 yang cukup menekankan pada teori dan pemaknaan teori. Lebih jauh lagi,

Hanya jika ingin menjadi peneliti, kejarlah pendidikan keilmuan yang lebih tinggi: master dan doktoral.

3. Biaya

Meningkatnya biaya pendidikan saat ini perlu dijadikan pertimbangan dalam memilih.  Saat ini saja biaya pendidikan magister Psikologi di Universitas Indonesia berkisar dari 10 juta (reguler) hingga 15 juta( khusus) per semester. Biaya sebesar itu harus dipersiapkan jika tidak ingin Drop Out di tengah jalan.

Disisi lain, menunda melanjutkan sekolah akan berpengaruh terhadap meningkatnya SPP ini. Sama seperti BBM, biaya sekolah tidak pernah menurun, apalagi untuk perguruan tinggi yang senantiasa membangun dan membangun seperti UI.

Pada kenyataannya dunia kerja dan dunia pendidikan tidak memiliki keselarasan. Meskipun spesifikasi pekerjaan yang dibutuhkan hanya lah penugasan klerikal, banyak perusahaan menyaratkan lulusan sarjana untuk mengisi posisi tersebut. Akibatnya masyarakat berlomba-lomba mengejar ijazah agar dapat melamar pekerjaan. Ini adalah tugas rumah yang besar bagi dunia pendidikan untuk mendesain ulang garis besar pendidikan nasional agar tidak terjadi pemampetan tenaga produktif.
Pernahkah anda berkata, “Saya tahu itu” begitu mendengar seseorang mulai berbicara? Atau, “Saya sudah pernah mendengar itu,” Seperti hari pertama Prajab, kami diberikan materi Dinamika Kelompok. Saya langsung kurang bersemangat karena merasa sudah tahu. Akibatnya partisipasi pun berkurang.

Informasi berterbangan dimana-mana. Semakin banyak sumber informasi kita, mungkin akan semakin sering kita mengatakan dua hal tersebut. Apa dampaknya? Ibaratnya gelas yang setengah isi, kita merasa cukup dan menutup gelas tersebut. Padahal tidak ada ruginya untuk mendengarkan sekali lagi. Sebaiknya:

1. Beri sugesti diri bahwa anda akan mendapatkan tambahan pengetahuan. Bisa saja ceramah yang akan anda dengarkan lebih jelas dari yang sebelumnya.

2. Gunakan sikap tubuh positif. Berikan penghargaan bagi pembicara dengan memusatkan perhatian kepadanya, karena dengan menghargai orang lain, maka itu berarti menghargai diri sendiri. Sikap tubuh membantu kondis mental siaga mambantu kita untuk menerima informasi dengan baik.

3. Bina respon yang interaktif tanpa menggurui. Justru karena sudah tahu isi ceritanya, maka anda dapat memberikan respon sesuai yang diinginkan.
" Suiiiit!!! Cewek!!!"

Sering mendengar ocehan ini dikantor atau di pabrik? Saat seorang wanita berjalan, para pekerja pria menggodanya.

Pelecehan seksual baik secara verbal maupun non verbal adalah hal yang sering terjadi di dunia kerja, namun dalam beberapa tahun terakhir, perhatian legal terhadap hal ini semakin meningkat. Di Amerika undang-undang mengenai Pelecehan Seksual diatur dalam The Civil Rights Act of 1964. Disini dibedakan 2 jenis pelecehan seksual, yaitu:
Kemaren malam, saya menonton From Paris with Love dengan seorang teman. Sebelum sepakat bertemu, teman saya meminta ijin untuk membawa temannya dalam acara santai kami. Saya kurang menyukai orang itu karena teman sering mengeluhkan perilakunya yang kurang toleran. Ia acap pulang malam dan mengganggu teman untuk memaksanya membangunkan penjaga kos agar diperbolehkan masuk. Teman juga menceritakan bagaimana orang itu pergi bertamasya ke luar kota tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tanpa sadar saya membentuk imaji negatif terhadapnya. Saya pikir, seorang wanita yang gemar pulang malam dan berdusta pada orang tuanya tidak mungkin orang baik-baik.

Aku ini orang baik, tapi bukan orang baik-baik

~Meteor Garden




Sebenarnya tidak ada yang salah dari diri orang tersebut. Ketika bertemu dengan saya, ia tampak santun dan menjaga cara berbicaranya. Ia pun tidak sok. Ini tipe yang saya suka. Ia juga merasa tidak masalah ketika saya mengabaikannya untuk berbicara dengan teman saya.

Ah, saya merasa bersalah telah bersikap kurang peduli. Padahal tidak satupun perilakunya telah menyakiti saya. Saya keterlaluan telah sok merasakan kekesalan teman, padahal tidak ada satupun bagian diri saya ikut dirugikan.

Dalam kehidupan kantorpun dapat terjadi hal seperti ini. Setelah sebulan saya masuk kerja, para senior mulai membuka aib masing-masing. Konflik-konflik kantor pun sedikit demi sedikit terkuak dan memberikan gambaran kacaunya kehidupan disini. Senior A berkata, “ini bukan menjelek-jelekkan ya, tapi si B itu..&%^&$&^*()&$%#%”. Senior C berkata, “Si A dan Si B tidak cocok, karena…jadi kalau terjadi sesuatu jangan ikut2”

Apakah anda juga merasakan hal yang sama? Ini tidak sehat karena data dari mereka harus kita proses secara objektif. Lebih jauh lagi, kita harus mampu mengembangkan pola pikir yang lebih bersahabat untuk menjamin kenyamanan kerja. Jika bukan kita, siapa lagi? Allah tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mau berubah. Untuk itu, saya pikir lebih baik kita:

1. Mengumpulkan sebanyak-banyaknya data.

Data berbentuk rekaman kejadian dari hasil observasi, percakapan dan tulisan yang didapat lewat objek ataupun dari pihak lain diluar subjek. Hindari pengumpulan data dari satu sumber saja untuk menjamin keberagaman. Ini penting agar kita memperoleh gambaran yang komprehensif tentang kondisi sebenarnya.

2. Menganalisa data secara objektif

Lepaskan diri dari Halo effect maupun ketertarikan personal. Hal ini dapat menjadi bias dalam penganalisaan data. Hati manusia ini memang mudah tertarik pada hal-hal kecil. Misalnya saja, kita gampang menganggap baik orang yang meminjamkan payung ketika kita lupa membawanya. Atau orang yang mengajak kita makan siang dan membayari bon tersebut. Atau orang yang mengajak kita ke pengajian. Atau orang yang selalu menyapa kita setiap pagi. Semua itu adalah perilaku yang perlu diuji sebelum kita dapat menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis.

3. Menemukan pola komunikasi yang efektif untuk setiap orang. Ingat, tiap-tiap kita merupakan individu yang berbeda. Individual differences ini menuntut penanganan yang berbeda pula. Misalnya jika berhadapan dengan orang yang dominan[1], maka sebaiknya gunakan kalimat langsung bukan sindiran serta faktual, karena mereka cenderung tidak sabaran dan tidak mudah percaya. Sedangkan jika berhadapan dengan orang dengan kepribadian Influence, pusatkan perhatian anda padanya dan dengarnya kisahnya.

Terburu-buru dalam mengenali seseorang dapat berujung pada kurang harmonisnya interaksi. Orang yang kita anggap baik bisa jadi menyimpan pedang dibalik punggungnya. Sedangkan orang yang menurut kita kurang bersahabat bisa jadi hanya kurang mampu mengungkapkan isi hatinya.

Dalam bekerja, hal ini perlu diperhatikan. Kemampuan memperlihatkan perilaku yang tepat merupakan keahlian yang tidak bisa dimiliki semua orang. Itu adalah keterampilan mengontrol diri. Namun, bukan berarti anda tidak menjadi diri sendiri. Bukankah itu sudah menjadi budaya dalam peradaban kita? Sama saja dengan sikap sopan yang harus kita perlihatkan pada orang yang lebih tua dan ramah pada anak-anak. Apakah dengan begitu anda menjadi orang lain? Tidak kan.

Pengontrolan emosi mungkin terkesan seperti robot. Tapi, hanya orang dewasa yang mampu melakukannya. Jadi, mari kita koreksi diri kita apakah kita sudah cukup matang dalam bergaul?


[1] Tipe kepribadian dari alat ukur kepribadian DISC yang didasari teori William Marstone. Dalam instrumen ini, kepribadian di bagi atas 4 kelompok: Dominan, Influence, Stable dan Compliance. Dominan berciri suka mengarahkan, tegas, mudah memutuskan, menyukai fakta, tidak mudah percaya dan cenderung memaksakan kehendak. Influence merupakan tipe kepribadian orang yang suka bersosialisasi, mudah berbicara, senang membaur, mempengaruhi dan ramah. Ciri tipe kepribadian Stable adalah orang yang dapat diandalkan, teguh pendirian, stabil, mendengarkan orang lain dengan efektif dan penuh toleransi. Sedangkan tipe kepribadian Compliance diperlihatkan orang yang patuh, berhati-hati dalam bertindak, mengutamakan ketepatan, sistematik dan perfeksionis.
Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting untuk menjamin produktivitas kita. Lingkungan kerja yang kurang kondusif dapat menurunkan motivasi dan melemahkan kreativitas. Lingkungan kerja yang dimaksud disini dapat dibagi atas 2, yaitu:

1. Lingkungan kerja sosial, yaitu orang-orang yang ada disekeliling kita, termasuk atasan, rekan kerja, dan klien.

2. Lingkungan kerja fisik, meliputi benda dan kondisi yang bukan manusia.

Lingkungan kerja fisik lebih mudah kita sesuaikan daripada lingkungan sosial, karena materi tersebut tidak memiliki keinginan sendiri. Contohnya meja kantor. Anda dapat mengatur posisi meja sesuai dengan keinginan anda. Apakah mau menghadap pintu masuk, disinari cahaya matahari atau merapat ke tembok. Atau dapat juga mendekor buku-buku di atas meja, menempatkan pernak-pernik kecil yang menyenangkan dan menyusun alat-alat tulis dalam pot kecil yang manis.

Namun, ada juga lingkungan kerja fisik yang berupa kondisi dimana manusia tidak dapat mencegahnya, namun dapat mengatasinya. Misalnya ruangan yang panas karena musim kemarau dapat dikendalikan dengan mengatur volume AC.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bau yang menyebar di ruang kerja. Tentunya hal ini sangat mengganggu konsentrasi. Bau ini dapat disebabkan oleh:

  1. sampah di dalam/luar ruangan

  2. sisa-sisa banjir

  3. hasil pengecatan dinding

  4. bahkan bau parfum yang berlebihan juga dapat merusak kenyamanan

Untuk mengembalikan suasanya kantor yang kondusif, maka sebaiknya:

  1. Buanglah sampah pada tempatnya

  2. Senantiasa membersihkan ruangan kerja secara teratur

  3. Segera rapikan ruangan yang terkena banjir.

  4. Buka jendela dan ventilasi untuk meningkatkan sirkulasi udara sehingga dapat segera mengusir bau

  5. Semprotkan wewangian yang menyejukkan anda, misalnya yang beraroma terapi. Anda juga dapat membeli/membuat pot pourri untuk menciptakan ruangan yang segar.

Bekerja itu gampang ya!