Showing posts with label literasi. Show all posts
Showing posts with label literasi. Show all posts

Polisi Grobogan, Jawa Tengah menyatroni toko swalayan dan menyita beberapa buku terkait dengan tokoh-tokoh partai komunis Indonesia (PKI). Ada tujuh judul buku yang disita polisi, yaitu Siapa Dalang G30S PKI, The Missing Link G30S PKI, Fakta dan Rekayasa G30S PKI, Komunisme Ala Aidit, Tempo Musso, Peristiwa 1 Oktober, dan Nyoto Peniup Saxofon di Tengah Prahara.

Kalau kita melihat sejarah, pelarangan edar buku telah terjadi bahkan sebelum Indonesia berdiri. Kasus-kasus tulisan yang dianggap menentang pemerintahan di masa kolonial belanda dilarang terbit di surat kabar dan koran.
Menurut KBBI, introspeksi memiliki makna:

introspeksi/in·tro·spek·si/ /introspéksi/ n peninjauan atau koreksi thd (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dsb) diri sendiri; mawas diri;

berintrospeksi/ber·in·tro·spek·si/ v mengadakan atau melakukan intro-speksi; mengoreksi diri: ~ lah dulu sebelum mencela atau mengkritik orang lain;

mengintrospeksi/meng·in·tro·spek·si/ v berintrospeksi


Contoh kesalahan penggunaan kata introspeksi: 


| Judul Asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek
| Pengarang: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup 
| Hak cipta tahun 1999
| Terbit di Indonesia: Maret 2011
| Penerbit: PT. Mizan Pustaka

Nils dan Berit adalah dua sepupu yang tinggal berjauhan. Mereka memutuskan untuk saling menulis buku-surat dan mengirimkannya. Nils tinggal di Oslo, sedangkan Berit bersekolah di kota kecil Fråerlandsfjord.

Kedua anak tersebut tidak pernah menduga bahwa pertemuan mereka dengan seorang wanita aneh bernama Bibbi Bokken akan menjadi misteri panjang yang mengerutkan kening. Entah kenapa wanita itu selalu ada di sekitar mereka. Bibbi membayari buku puisi yang diinginkan Nils di Oslo. Berit melihatnya berbicara sendiri mengenai buku klasifikasi desimal Dewey di kotanya. 
Sebagian besar manusia merasa bahagia. Setidaknya itulah yang disimpulkan dalam buku Geography of Bliss. Sayangnya saya berada pada masyarakat yang selalu bertanya kenapa orang lain bisa bahagia, sedangkan saya tidak?” Oh ya, kebahagiaan orang lain merupakan ukuran untuk mengutuk diri sendiri. Untuk menyalurkan sikap itu, produser opera sabun membuat beratus-ratus episode agar kita menyesali keadaan kita saat ini: kurang kaya, kurang cantik atau kurang pintar. Bagus. Sepertinya mereka cukup berhasil mengingat setiap sore hingga malam jutaan pasang mata terpaku menatap adegan dramatis di televisi nasional.