Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts


Buka puasa bersama merupakan kegiatan khusus yang banyak dilakukan di bulan Ramadhan. Tujuannya mulia: menjalin silaturahmi. Selain untuk mempererat lingkaran sosial, kegiatan ini juga dapat menjadi waktu rekreasi. Semakin banyak komunitas sosial yang dilakoni seseorang, semakin penuh pula jadwalnya untuk menghadiri undangan buka bersama.



Buka puasa bersama kantor juga menjadi agenda khusus di bulan Ramadhan. Para karyawan diharapkan dapat menghadiri kegiatan di luar jam kantor untuk beramah tamah dengan kolega dan para pejabat. Kehadiran karyawan dalam acara kantor yang tidak terkait dengan tugas kerjanya adalah salah satu perilaku Organizational Citizenship Behavior (OCB).
Bepergian dengan kereta merupakan alternatif untuk menghindari kemacetan di jalan-jalan Jakarta. Dengan sistem KAI Commuter Line (KRL, kereta rel listrik) yang senantiasa dikembangkan untuk meningkatkan kepuasan penumpang, jarak antara Jakarta dan kota-kota pendukung di sekitarnya dapat dipersingkat.
menuju terminal 1 skytrain
Selamat Hari Kartini!

Di hari ini kita diingatkan kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini yang berupaya membuka kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan. Kartini bukan satu-satunya pahlawan wanita yang ingin mengangkat harkat dan martabat wanita. Dalam kurun waktu antara tahun 1880-an hingga 1965, para wanita perkasa dari penjuru tanah air seakan bergerak bersamaan.

Yang berasal dari tanah Jawa, ada Raden Dewi Sartika (1884-1947) dan Nyi Ageng Serang lahir pada tahun 1752 dan meninggal di tahun 1838. Dari Tanah Rencong kita mengenal Cut Nyak Dien yang hidup dari tahun 1848 hingga 1908 dan Cut Nyak Meutia lahir di tahun 1870 dan meninggal pada tahun 1910. Di Sumatera Barat ada Rasuna Said (1910-1965), Rohana Kudus (1884-1972), Siti Manggopoh (1880-1965) dan Rahmah Elyunusia (1900-1969). 

Jika dibandingkan dengan para srikandi di atas, RA Kartini hidupx sangat singkat, hanya 25 tahun. Padahal beliau adalah seorang priyayi, yang segala kebutuhan hidupnya terpenuhi. Jika dianggap pada masa itu gizi masyarakat sulit dicukupi, semestinya tidak terjadi pada beliau. Lalu kenapa angka harapan hidupnya sangat rendah?

Menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek mengatakan bahwa jumlah perokok di kalangan perempuan mengalami peningkatan sebanyak 2.76%. Perempuan perokok tertinggi di dunia. Jumlah ini tentu memprihatinkan karena merokok memiliki keterkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan. Apalagi jika dilakukan oleh perempuan.
Menteri Anis mengeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah yang menganjurkan orang tua untuk mengantarkan anak ke sekolah. Momen ini dapat dimanfaatkan orang tua untuk mengenal guru dan perangkat sekolah, mengecek kondisi tempat belajar, berkenalan dengan orang tua lain.


Isu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) menjadi meresahkan setelah komunitas LGBT menarik perhatian khalayak dengan beberapa tuntutan yang intinya ingin diakui sebagai salah satu keragaman bangsa. Pilihan seksual merupakan hak asasi manusia dan harus dilindungi selama ia berada dalam ranah privat. Menjadi LGBT hampir sama dengan orang yang menonton film porno, pastinya sebuah hal yang memalukan jika dilakukan di muka umum. Akan tetapi, tidak ada hukum yang melarang. Begitu juga dengan LGBT, tidak ada aturan yang melarang orang menjadi lesbi, gay, biseksual dan transgender. Akan tetapi, negara bertujuan untuk menjaga kesejahteraan semua, tidak pula lantas negara memfasilitasi perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat kebanyakan. 
Selamat hari hijab sedunia!
Sejujurnya, saya baru mengetahui bahwa ada hari peringatan mengenakan hijab yang dicanangkan sejak 1 Februari 2013. Adalah Nazma Khan, seorang muslimah di New York yang mempromosikan hari ini untuk mendorong toleransi dan pemahaman mengenai Islam dan perempuan muslim. 

Hijab adalah cara muslimah untuk menutup auratnya sesuai dengan tuntunan Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 59 yang isinya diterjemahkan sebagai berikut:

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Siang ini warga Jakarta di sekitar jalan MH Thamrin dikejutkan dengan ledakan di 2 titik: Starbucks Coffee Skyline Sarinah dan Pos Polisi Sarinah Thamrin. Dalam sekejap media sosial dipenuhi beritanya. Orang-orang me-retweet, atau meng-copy paste berita yang muncul di layar gadget mereka dengan tujuan memberikan informasi terbaru kepada rekannya. Akan tetapi, di antara banyaknya berita tersebut sulit untuk memastikan validitasnya, apalagi jika diawali "info dari grup sebelah" atau "dari teman".
Selamat pagi,
Sudahkah anda menyantap sarapan daging kurban hari ini?
Sambil makan pagi bersama keluarga, mata saya sesekali melirik ke TV yang masih menyiarkan berita tragedi Mina dimana sudah 717 orang meninggal dan ratusan lain terluka. Musibah ini menambah daftar berita bencana dari tanah suci yang sepertinya tidak kunjung berhenti di tahun ini.

Lebih dari 800.000 orang bunuh diri setiap tahun. WHO mencatat pada 2010 angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5.000 orang per tahun. Kemudian pada 2012, estimasinya meningkat jadi 4,3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 per tahun. Oleh karena itu, sejak tahun 2003 WHO mencanangkan tanggal 10 September sebagai World Suicide Prevention Day (Hari Cegah Bunuh Diri Sedunia). Pada tahun ini peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia mengambil tema  “Mencegah Bunuh diri: Menjangkau dan Menyelamatkan Hidup”.
  

Mungkin terdengar klise, tapi begitulah hasil penelitian venture capitalist Mary Meeker. Menurutnya para generasi millenial lebih menghargai pekerjaan yang bermakna dibandingkan gaji yang tinggi. Mereka lebih mencari sense of accomplishment dan pekerjaan yag menantang. Benefit yang disukai kaum millenial adalah (1) pelatihan dan pengembangan; (2) waktu kerja yang fleksibel; dan (3) bonus tunai.




Gifset dari Lucifer (pilot version)
Sudah beberapa hari ini rekan kerja saya sibuk menjelajahi beberapa supermarket. Rupayanya ia mencari perlengkapan untuk putri bungsunya yang baru saja diterima di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota depok dan sesuai tradisi setiap siswa baru harus mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Tidak tega anaknya harus bersusah payah memenuhi ketentuan panitia (yang notabene hanyalah kakak kelas), ibunya pun ikut menyingsingkan lengan. Biasanya memang begitu ya, yang MOS anaknya, tapi anggota keluarga lain ikut heboh.

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata MOS? Tugas-tugas yang tidak masuk akal? Atribut yang memalukan? Hukuman fisik? Yah, setelah hampir dua windu tahun saya lulus dari sekolah, ternyata tradisi itu masih dipegang teguh oleh siswa-siswa masa ini. Tentu sekarang kita bisa tersenyum mentertawakan kekonyolan MOS, terlebih kebodohan kita yang mau-maunya dipelonco oleh kakak kelas. 
Adalah hal yang wajar ketika seorang bawahan mengeluhkan kurangnya arahan atasan. Hal ini sering terjadi ketika bawahan lebih aktif dibandingkan atasan. Yah, banyak hal yang menyebabkan seseorang bisa jadi atasan, seringkali karena faktor urut kacang alias senioritas, bukan karena kepiawaian mengelola bawahan.

Semua orang ingin dihormati, dianggap lebih penting, dihargai. Menjadi atasan adalah salah satu eskalator untuk memenuhi kebutuhan itu. Akan tetapi, label "atasan" bisa menjadi bumerang ketika ia tidak memiliki kompetensi.
Sudah setahun berjalan sejak Menteri Pendidikan Muh. Nuh mencanangkan pergantian kurikulum sekolah menjadi Kurikulum 2013. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menganggap ini sebagai obat bagi permalasahan kualitas pendidikan. Memang, ini hanyalah salah satu resep Kemendikbud yang bercita-cita mewujudkan generasi emas. Sayangnya, peresepan ini tidak disertai diagnosis matang, sehingga menimbulkan lebih banyak masalah. 

Hari ini kami mengundang dua pembicara dalam Focus Group Discussion bertemakan "Pemenuhan dan Pelindungan Hak-hak Penyandang Disabilitas". Pembicara pertama, Ibu Yanti dari Kementerian Sosial menceritakan banyaknya program Kemensos yang dirancang untuk mengelola penyandang cacat. Sebagaimana banyak agenda pemerintah, jarang yang terlaksana secara efektif karena berbagai kendala, termasuk dana, sumber daya manusia, maupun birokrasi. Menarik ketika beliau menyinggung kehebatan Otonomi Daerah yang secara tidak langsung memutus "niat baik" program sosial bagi penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa tugas melindungi penyandang disabilitas bukanlah proyek menarik bagi daerah, oleh karena itu sedikit daerah yang memiliki perhatian terhadap penyandang disabilitas.
diambil dari @P3DI_KS
| Judul Asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek
| Pengarang: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup 
| Hak cipta tahun 1999
| Terbit di Indonesia: Maret 2011
| Penerbit: PT. Mizan Pustaka

Nils dan Berit adalah dua sepupu yang tinggal berjauhan. Mereka memutuskan untuk saling menulis buku-surat dan mengirimkannya. Nils tinggal di Oslo, sedangkan Berit bersekolah di kota kecil Fråerlandsfjord.

Kedua anak tersebut tidak pernah menduga bahwa pertemuan mereka dengan seorang wanita aneh bernama Bibbi Bokken akan menjadi misteri panjang yang mengerutkan kening. Entah kenapa wanita itu selalu ada di sekitar mereka. Bibbi membayari buku puisi yang diinginkan Nils di Oslo. Berit melihatnya berbicara sendiri mengenai buku klasifikasi desimal Dewey di kotanya. 
Setiap pekerjaan memiliki intrik yang berbeda-beda. Saat pertama kali saya melangkahkan kaki ke dunia penelitian, saya pikir hidup saya hanya akan berkutat seputar buku, penelitian dan tulis menulis. Sama halnya ketika saya menjadi konsultan psikologi disebuah perusahan outsourcing, saya pikir saya hanya akan melakukan asesment kemudian memberikan laporan evaluasi psikologi.